Jumat, 01 April 2011

MAGIC ATTACK

“Woy tunggu!!” Teriakku sembari melambaikan tangan dan mengayuh kencang sepeda. Enam roda sepeda di depanku terus menggelinding semakin jauh, aku tak mau kalah, kakakku semakin kuat mengayuh. Tiba-tiba, “Byuuuuurr!!!” Tahi sapi menghalangi lintasan sepedaku yang melaju kencang, spontan setang sepeda membelok dan berakhirlah aku di sungai sisi kanan jalan setapak itu. “Ckiiitt!!” roda-roda sepeda di depanku ngepot, meledak tawa di antara mereka. “Weeeeeekk!! Sudah tiang bilang jangan ikut!! anak cewek itu ga seharusnya main di sawah” cibir Made kepada ku. “Ibu bilang Kakak harus ngikutin kemana kamu pergi. Sini! bantu Kakak mengangkat sepedanya dan kita pulang sama-sama!” Sambil memeras ujung kaosku yang basah, Made tersenyum dan mengayuh pelan sepedanya ke arah utara mengikuti dua sepeda di depannya. “Mau ke mana kamu? kembali!!!!” teriakku geram. “Mau ke hutan. Kata Suta, sungai di hutan banyak ikannya. Tiang mau mancing ke sana” Mendengar aku berteriak, kakaknya semakin lincah saja memutar pedal sepeda. Apa boleh buat, dengan keadaan lutut lecet dan badan lepek, aku biarkan adikku yang bandel itu pergi ke hutan bersama Suta dan Ketut. “Ku harap dia baik-baik saja” doaku dalam hati. Dengan pelan ku tuntun sepedaku pulang.

“Om Swastiastu!” Setelah Ibu menjawab, dengan lemas aku parkir sepedaku, masuk ke dalam rumah dan mengguyur tubuhku dengan air di kamar mandi.. Begitu aku keluar, Ibu berdiri di depan kamar mandi dengan tangan melipat di dada. “Mana adikmu? Ibu kira kamu pulang bersama dia” tanya Ibu dengan nada melengking. “Hm, maaf Mek! Tadi tiang bersamanya di sawah, tapi tiang nyemplung ke sungai, kemudian dia pergi ninggalin tiang. Hm..., dia ke hutan dekat sumber mata air yang ada di ujung timur desa.” Aku menunduk. “Sejak kapan?” tanya Mamak cemas. “Setengah jam, oh tidak-tidak. Satu jam, bukan. Hmmmn, kira-kira satu setengah jam yang lalu. Bersama Suta dan Ketut. Maaf Mek!” Menggeleng geleng mencari jawaban yang pasti dan tak lupa meminta maaf.

Tanpa kata, Ibu segera ke rumah Suta, dan memberitahukan kepada Bapak Suta bahwa anaknya tengah melakukan hal yang berbahaya. Bapak Suta pun segera pergi ke hutan. Satu jam kemudian, Suta digandeng Bapaknya dari arah selatan. Ibu berlari sambil menangis menanyakan keberadaan Made. Ternyata Made masih di sana. Ibu segera pulang menelfon Pak De. Kemudian Pak De datang, bersama tetangga dan Kakak, mereka berangkat ke hutan.

Aku sedih melihat Ibu terus menangis. “Bapak kamu sedang dinas di luar kota, kalau terjadi apa-apa, Mamak harus bilang apa?” Tersedu-sedu Ibu menangis. Terbesit di benakku fikiran-fikiran mengerikan tentang makhluk-makhluk gaib yang biasanya tinggal di hutan, memedi, leak, atau sejenisnya.”Idiih, ternyata makhluk-makhluk itu benar-benar ada. Mungkin karena orang-orang sekarang ga pernah memperhatikan keberadaan mereka, kemudian mereka bertingkah, membuat magic attacks. Serangan gaib. Iiii? hehehehe. Makhluk halus itu pinter banget yah? TNI sama makhluk halus kalau adu strategi, pasti makhluk halus yang menang hehehe. Tapi masalahnya adikku yang yang jadi korban. hiks” otakku tidak berhenti berfikir. Spontan bulu kudukku berdiri, dan badan merinding ketakutan kemudian ku peluk erat Ibu, “Mek, bagaimana kalau Made diculik memedi? Atau dijadikan tumbal, atau juga dimakan leak? hii serem”. “Huss, fikiran apa itu? Jangan ngomong gitu!” Kelihatan Ibu semakin takut dan memeluk erat tubuhku.

Dua jam setelah ketiga lelaki tua itu berangkat. Tetanggaku datang merangkul Pak De tanpa adikku. Kakak Pak De terluka, beliau duduk di ruang tamu sambil bercerita dan sesekali memejamkan mata kemudian berteriak karena lukanya dibersihkan ibu.. Beliau mencari Made di sepanjang sungai di hutan yang gelap. Beliau meneriakan nama Made, dan teriakan itu bergema di antara tebing-tebing dan rimbunan pohon. Ketika beliau melihat sekeliling sembari berteriak, kakaknya terpeleset di tebing yang licin. Untung saja beliau tidak tercebur ke sungai, karena dulu di sungai itu pernah ada orang yang meninggal karena tenggelam.

Sudah empat jam berlalu, Kakak belum kembali. Pak De, Ibu, tetangga, dan aku menunggu kedatangan Kakak, berharap Made ditemukan. Ibu terus meneteskan air mata hingga matanya membengkak. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. “Halo! Mita, kita pergi jalan ke taman kota yuuk..!! Sore-sore gini kan asik” Ayu menelefon dengan nada seperti petasan. “Aaahh, kamu tidak tahu, adik tiang menghilang sejak lima jam yang lalu. Tiang takut dia disembunyikan memedi atau disantap leak” Menangis tersedu-sedu. “Hahahahaha, wkwkwkwk!!” Ayu tertawa terbahak-bahak. “Kenapa kamu tertawa disaat tiang bersedih?” Nadaku meninggi. “Woy! dari tadi siang dia berdiri di tengah petak sawah sambil menarik ulur layangannya. Gayanya udah seperti Petakut aja. Lagian ini kan sudah jadi agenda anak-anak sini, kalau ga latihan ke sanggar, main ke sawah, ya main layang-layang. Yang jelas mereka selalu bersama, tidak mungkin ada Memedi yang mau menyembunyikan adikmu. Dasar!! Ya sudah! Sampai jumpa! Setengah jam lagi tiang jemput kamu”. Senyumku mengembang, dan berteriak “Made sedang main layangan di sawah depan rumah Ayu”. Tiba-tiba Ibu memelukku dan melompat-lompat. Tapi kemudian lompatan itu terhenti. Ibu menepis senyumnya. “Bagaimana dengan Kakak?”. “Kakak? Kakak disembunyiin memedi!!hahahaha” Kami tertawa terbahak-bahak. Kemudian Kakak datang dengan lusuh dengan tubuh yang penuh dengan lumpur. Ujung hidungnya coklat, persis seperti badut. Tawa kami semakin lantang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar